Ketika Agama Menghadapi Tantangan Sains dan Teknologi

Ketika Agama Menghadapi Tantangan Sains dan Teknologi

Inilah 5 teknologi Tercanggih Saat Ini - Article - Plimbi Social Journalism  | Plimbi.com

Di sebagian negara maju, pembagian anggota penduduk yang memeluk kepercayaan agama makin berkurang. Mereka lebih memercayai temuan dari sains dan teknologi sebagai pemberi pedoman kehidupan mereka sehari-hari. Agama makin tersingkir perannya di dalam memandu dan mengarahkan penduduk sesuai bersama dengan nilai yang dimilikinya.

Apakah penduduk di negara Muslim dapat mengalami perihal yang sama? Ini tentu sebuah pertanyaan yang harus direnungkan dalam. Sejauh ini belum muncul tren seperti itu. Bahkan di Indonesia terkandung kecenderungannya peningkatan ghirah berislam di kalangan kelas menengah dan terdidik. Agama dan pengetahuan sama punyai porsi mutlak di dalam kehidupan sehari-hari Muslim Indonesia.

Hubungan agama dan pengetahuan tak selamanya sejalan. Terdapat sebagian style jalinan pada agama dan pengetahuan. Pertama, agama dan pengetahuan saling mendukung. Sejumlah ayat Al-Qur’an secara paham menyatakan sebuah fenomena pengetahuan tidak benar satunya compositions penciptaan manusia yang dideskripsikan jauh sebelum akan pengetahuan dapat menjelaskannya secara empiris. Tetapi di segi lain, terkandung perbedaan pendapat mengenai manusia pertama di bumi ini terkait bersama dengan turunnya Nabi Adam dan teori evolusi yang dikembangkan oleh Darwin.

Di Eropa, jalinan agama dan pengetahuan sempat mengalami masa suram dikala agama memaksakan kebenarannya. Ilmuwan yang mendapatkan pengetahuan baru yang tidak sama bersama dengan tafsir para pemuka agama mengalami penindasan. Akhirnya perihal ini menghidupkan gerakan perlawanan bersifat sekularisme yang memisahkan agama bersama dengan kehidupan publik. Eropa jadi maju bersama dengan terbebaskannya para ilmuwan mengembangkan pengetahuannya.

Agama sifatnya transendental sedangkan pengetahuan bersifat empiris rasional yang dapat diuji kebenarannya. Ayat Al-Qur’an bersifat https://www.capiatadigital.com/ tetap, tetapi tafsirnya di dalam mengalami kontekstualisasi sedangkan kebenaran pengetahuan bersifat relative. Sebuah teori tetap diakui benar kalau belum ada teori baru yang memperlihatkan teori lama itu salah. Dalam beragama kami beriman mengenai keberadaan tuhan tanpa mempertanyakan bukti empiris dikarenakan pancaindra manusia tidak dapat menjangkau hal yang sifatnya adikodrati. Akal manusia amat terbatas untuk paham kompeksitas jagad raya ini. Tapi bagi bunch skeptic atau atheis, maka kebenaran ditunjukkan oleh fakta empiris dan rasionalitas. Kelompok ini menguasai pertumbuhan dan pergantian dunia.

Agama dihadapkan terhadap tantangan sains mengenai kapabilitas manusia “menciptakan” hal baru yang pernah cuma dapat dilaksanakan oleh Tuhan. Kloning sejumlah binatang telah sukses dilakukan. Dan di dalam sebagian tahun ke depan, hasilnya dapat makin sempurna. Beberapa ilmuwan bisa saja tetap menyaksikan penciptaan manusia sebagai lokasi tak tersentuh, tetapi sebagian orang punyai kecenderungan untuk melanggar hukum. Mungkin untuk tujuan popularitas individual atau anggota dari persaingan sebuah perusahaan atau negara. Dan kalau ada satu yang sukses menciptakan manusia super yang menjadikannya unggul, maka pihak lainnya dapat berlomba-lomba mengarahkan sumberdayanya untuk jalankan riset manfaat meraih keunggulan. Adakah batas bagi ilmuwan untuk menciptakan suatu hal yang dinilainya bukan ulang ranah manusia? Ini pertanyaan sulit.